
Again, for the third time I’m movin out. But this time’s the last time I promise myself. Head to www.mdmaulana.com
[video]
At last!
[video]
[video]
Sebagai negara yang menjunjung tinggi pluralisme dan keragaman budaya sudah seharusnya kita hindari generalisme. Asumsi bahwa semua orang Indonesia memiliki perasaan atau reaksi yang sama terhadap sesuatu adalah salah besar. Hal yang palng menakutkan tentu saja UU ini dijadikan landasan yang membenarkan aksi ekstrimis untuk protes pada hal tertentu dengan dalih “porno atau asusila”. Berikut ini secuil artikel yang ditulis Ignas Kleden mengenai UU pornografi yang baru-baru ini disahkan pemerintah:
“Rencana Undang-Undang Republik Indonesia tentang Pornografi (selanjutnya: RUU Pornografi) masih menimbulkan kontroversi yang luas dalam berbagai kelompok masyarakat Indonesia dan penolakan oleh beberapa kelompok budaya tertentu. Kalau kita membaca teks RUU Pornografi ini, apa yang jelas dalam teks itu hanyalah sanksi dan hukuman. Sementara itu apa yang tidak jelas adalah ketentuan mengenai apa yang dilanggar dan mengapa suatu tindakan atau suatu barang atau benda dianggap mengakibatkan pelanggaran.
Dalam pasal 1 ayat 1 RUU ini, dirumuskan suatu definisi yang mengartikan pornografi sebagai ”materi seksualitas yang dibuat manusia” yang dikualifikasikan sebagai ”dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”. Dengan rumusan itu diandaikan bahwa secara publik dapat diketahui apa yang dapat membangkitkan hasrat seksual pada seseorang dan apa yang tidak, padahal pengetahuan tentang keadaan tersebut sulit sekali ditetapkan secara ilmiah, karena bersifat sangat subyektif. Kalau seorang pemuda melihat foto gadis pacarnya (dalam pakaian lengkap) kemudian muncul rasa rindu pada dirinya disertai imajinasi-imajinasi erotis dan hasrat seksual, apakah foto itu harus dibakar atau harus diserahkan kepada pemerintah daerah untuk dimusnahkan?
…….”
Lengkapnya baca disini : Tempo Interaktif
PS: ketika selesai membaca artikelnya saya tahu beberapa dari anda akan berpikir “kalo begini gimana Indonesia mau maju?”. Buang pikiran tersebut kalau anda tak terkena dampak langsung UU tersebut. Tentu saja hukum tertulis tersebut dibuat untuk diaplikasikan ke semua orang Indonesia, tapi belum tentu kita harus ikut campur. Anda masih bisa toh menikmati hal-hal tertentu di waktu private anda?. Konsentrasi saja pada hal yang kita anggap bisa buat Indonesia jadi negara yang lebih baik. Protes buta atau ikut-ikutan demo tak akan menghasilkan apa-apa.
[video]

Yang satu ini adalah re-post dari Notes teman SMA saya di Facebook. Membacanya membuat saya sedikit terharu sekaligus tertawa, mengingat masa-masa SMA. Kalau melihat ke belakang saya merasa sangat beruntung dan bangga pernah jadi bagian sekolah tersebut. Ingat, yang anda baca dibawah ini cuma sekelumit cerita dari hari pertama kami, bayangkan apa yang terjadi selama 3 tahun. :)
“Hari itu hari sabtu, 2 hari sebelum sekolah resmi dimulai. Aku mengenakan kemeja kotak-kotak biru dan celana hitam, tidak lupa sepatu yang bentuknya tidak trendy demi terlihat rendah hati. Sampai di depan gerbang sekolah, aku berjalan menunduk, tangan kaku di samping, dan pandangan lurus ke depan. Hati agak gundah. Sebegitu sampai di dalam sekolah, aku segera menemukan beberapa temanku yang sedang berkumpul di salah satu bangku di koridor. Langsung kubenamkan diriku diantara lautan muka-muka baru di sekolah itu. Idenititasku tersembunyi.
Sepuluh menit duduk di antara kumpulan itu, tiba-tiba tiga orang senior melewati kami. Salah satunya memakai helm dengan kaca gelap, berjalan petantang petenteng, sambil berkata, “tau gak lo nama gw?”. Ia terus mengucapkan itu berulang kali, dan kami hanya menunduk diam. Posisi dudukku yang tadinya cukup lega, tiba-tiba menjadi sempit, berdempet-dempet. Setelah 3 orang itu berlalu, mulailah kami bergosip. Ada satu teman yang berkata, “Eh itu angkatan kita tau!”. “Siapa?”, balas temanku. “Gak tau,tapi yang jelas itu angkatan kita!”. Saat kami semua mulai percaya gosip itu, terhenyak mendadak. Semua diam dan menunduk. Ada satu orang yang berguman, “Aduhhh cepet siang dong. biar pulang…”
Bel berbunyi, kami menuju aula. Di sana awalnya ada guru yang mengucapkan kata sambutan, kemudian dilanjutkan oleh ketua osis. Awalnya kami masih ngobrol satu sama lain saat si ketua osis itu mulai berbicara. Tiba-tiba dia berteriak, “Diem N****T ! Lo kelas satu, gue injek-injek sekarang juga bisa!”.
WUIH
Baru pertama kali ada orang marah seseram itu, pikirku. Kami diam, menunduk, dan berharap cepat pulang. Setelah beberapa lama ia berbicara, ia mengundang seluruh tim osisnya, dan ia berpesan untuk menghafal nama mereka semua. Kami, kelas baru, tahu apa yang akan terjadi pada kami kalau kami tidak ingat nama mereka masing-masing. Mulailah kami membuka buku catatan. Awalnya mereka berbicara dengan jelas. “Gue A, osis bagian dana.” , “Gue B, osis bagian seni.”, dan seterusnya. Mulau orang ke lima, mereka tidak seperti berbicara. Bahkan ada yang enggan bilang namanya, tapi di akhir kata-katanya berkata, “Awas kalau ga inget nama gue.” . WAOW. Dia pikir kita ahli nujum?
Setelah sesi perkenalan yang nyaris tidak berkenalan itu selesai, dimulailah sesi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sesi periksa tato, tindik, dan piercing. WUIDIHH.. di sesi ini rasanya saya tidak lagi ingin bersekolah di sini. Kami menanggalkan kemeja, hanya tinggal memakai kaos kutang, celana dilinting sebatas lutut, dan tangan ke atas. Beberapa teman yang sudah pernah memakai piercing dan bertato mendapatkan perlakuan yang istimewa. Saya, untuk pertama kalinya merasa beruntung hanya medapatkan perlakuan yang biasa-biasa saja.
Hari sudah siang, kami diizinkan pulang. Di depan sekolah sudah ada puluhan siswa-siswa senior. Mereka memanggil, “ssst ssst!”. Salah satu teman kami yang refleks menengok langsung ditunjuk. “EEYAA, nah lo sini!”. “Saya kak?”, “Iya elo, siapa suruh nengok!”. WUAKAKA, tawa ku dalam hati. Oh, ini cara manggil baru yah. Saya tertawa dengan wajah ketakutan. Jalan semakin dipercepat, tundukan sudah lebih menjiwai. Saya sengaja melewati sela-sela mobil agar tidak terlihat. Teman dekat saya di depan saya tiba-tiba berbisik, “Ne, di depan mobil gw, ntar langsung masuk terus nunduk oke!”. “OKEH”, jawabku. Serasa James Bond, aku menunduk-nunduk dan masuk dengan cepat. Aku tertelungkup di lantai jok belakang, dan begitu merasa aman, barulah aku bergerak ke posisi duduk biasa. Setahuku hanya ada 3 orang yang masuk mobil, namun di sebelahku ada satu orang lagi. “Loh?”, kataku, sambil menunjuk si penumpang gelap. “sori ya, gue main masuk aja, ntar gw keluar deh. gw tadi begitu liat lo masuk mobil, langsung aja gw masuk, ga mikir.” “Ohh, jawabku.”. WHEW, hari ini gila rasanya.
Esok hari seninnya, salah satu dari temanku mengatakan bahwa ia sudah pindah sekolah.Huhh
itulah 5W 1H di hari pertamaku memasuki SMA”