27/09/2008
MySpace Music
Kehadiran MySpace di industri musik bukanlah sesuatu yg baru lagi. Semenjak peluncurannya di tahun 2003, social network terbesar di Amerika Serikat ini mentransformasi dirinya menjadi sebuah platform promosi yang dianut oleh hampir semua band independen dan major dalam skala global. Kalau anda tidak bisa ditemukan di MySpace artinya anda belum eksis di dunia musik, kira-kira begitu. Kesampingkan dulu desain interface mereka yang memang bukan keutamaannya. Myspace mampu menjadi sebuah “standard” di era promosi musik online.
Oleh karena itu ekspansi MySpace dengan mendirikan MySpace Music terlihat sebagai progresi yang natural. Mengingat sejauh ini mereka belum mampu memanfaatkan momentum ledakan artist di MySpace, kendati jutaan fans telah mengerubungi social network tersebut dan bahkan beberapa akan mengaku kalau MySpace adalah sumber informasi terbaru mereka tentang musik dan artis-artis baru. Memaanfaatkan fans dan artist sebagai amunisi tersebut, Newscorp (pemilik MySpace) bekerja sama dengan 4 raksasa major label dunia. Kesepakatan yang mereka temukan adalah para major label memiliki share sebesar 40% dan Newscorp menguasai sisanya. Revenue stream menggantungkan harapan pada advertising dan pembelian Mp3 (dari katalog DRM-free milik Amazon untungnya). Kedepannya mereka mengharapkan untuk mampu menjual merchandise dan tiket konser. 
Tidak ada yang baru sebenarnya dari konsep MySpace Music. Mencoba mengintegrasikan website pencarian musik (music discovery) dengan aspek sosial dari online community. Semua anggota MySpace memiliki kebebasan untuk menikmati on-demand streaming semua lagu yang dimiliki oleh para major label dan dengan bebasnya membuat playlist berisikan maksimum 100 lagu lalu menaruhnya di halaman profil. Mengingatkan kita pada Imeem dan Last FM tentunya. 2 website tersebut telah mencoba hal serupa.
Idenya adalah para fans musik lah yang akan bertukar playlist (ibarat swaping mixtape) dan otomatis menjadi alat promosi grassroot yang efektif. Disamping itu, dengan adanya streaming gratis diharapkan mendorong kemauan konsumer untuk membeli musik secara legal.
Imbasnya kepada musisi independen
Peluncuran MySpace musik juga dihiasi beberapa polemik. MySpace dari awal sudah terpatri pada imej sebuah social network yang paling menguntungkan musisi independen. Adanya deal pembagian keuntungan profit major label ini membuat kondisi tersebut berbalik dimana musisi independen di anak-tirikan. Tak ada perubahan yang signifikan yang mereka rasakan, karena pada akhirnya mereka pun tak mampu menjual musik mereka apabila mereka bukan salah satu artis major label. Keuntungan yang mampu mereka raup tidak ubahnya sebuah exposure. Musisi dan label independen tak lagi memiliki eksistensi dan role mereka yang lama karena kekuatan MySpace Music dihitung dari equity, dan pada pihak independen bukan salah satu pemiliknya. Cukup aneh mengingat kekuatan Myspace justru krn menjadi “rumah” bagi mereka. Akankah MySpace Music meluncurkan program advertising share bagi artis independen? kita lihat saja nanti.
Arah yang baik untuk major label
Di tengah kekisruhan tak henti mengenai nasib major label di masa depan, kerja sama dengan MySpace tampak seperti langkah yang tepat. Diprediksikan kalau dalam beberapa tahun lagi masalah lisensi akan diatur sedemikian rupa sehingga musik dapat dipedengarkan secara gratis melalui ad-supported on-demand streaming layaknya televisi cable saat ini dan album hanya digunakan sebagai by-product. Sumber profit utama major label akan terlahir dari penjualan tiket konser, merchandise dan tentunya advertising (lihat saja LiveNation dan 360 deals mereka). Dengan begitu MySpace Music tampak seperti katalis dan program uji coba akan model bisnis evolusioner ini. Pelan tapi pasti major label akan melepaskan ideologi mereka dimana keuntungan disandarkan pada penjualan album yang selama 10 tahun terakhir sudah menurun drastis dan tak menunjukan tanda perbaikan. Direct-to-fan model yang diperkenalkan MySpace Music tampak logis untuk posisi mereka saat ini.
US Only
Untuk saat ini mereka yang berdomisili diluar Amerika Serikat belum mampu menikmati service terbaru ini dikarenakan masalah legal dan lisensi yang blom tersortir juga. Diharapkan dalam waktu dekat ini UK dan bagian negara Eropa lain bisa bergabung dengan para fans musik di AS menggunakan service musik yang mengklaim memiliki komunitas musik terbesar di dunia ini.
Text posted at 10:38





